jump to navigation

Jaga Harga, Bulog Rugi Rp 720 Miliar April 1, 2010

Posted by Desa Sima in Ekonomi dan Bisnis.
trackback
BERAS

Jakarta, Kompas – Perum Bulog merugi Rp 720 miliar karena harus membeli beras petani di atas harga pembelian pemerintah pada tahun 2009. Pembelian ini tak terelakkan karena salah satu tugas yang diberikan pemerintah kepada Bulog adalah mengendalikan harga beras di tingkat petani agar tidak jatuh pada saat masa panen.
”Pertanyaannya sekarang, apakah Menteri Keuangan dan Menteri BUMN sudah mengetahui pembelian beras dengan defisit yang dilakukan Bulog ini,” kata ekonom Dradjad Hari Wibowo di Jakarta, Rabu (31/3).

Berkas laporan realisasi pembelian beras yang membuat Bulog merugi itu akan diserahkan kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk diaudit.
Menurut Dradjad, Bulog tidak perlu merugi seandainya harga pembelian riil yang dilakukan tidak melampaui harga pembelian pemerintah (HPP) 2009, yang ditetapkan 30 Desember 2008.
”Jadi, Bulog harus nombok Rp 720 miliar. Bagi Bulog tidak masalah karena ia BUMN sehingga dana kerugian tersebut harus ditutup negara,” ujar Dradjad.
HPP tahun 2009 untuk gabah kering panen ditetapkan Rp 2.400 per kilogram. Adapun HPP beras Rp 4.600 per kilogram.
Wakil Menteri Pertanian, yang juga Deputi Bidang Koordinasi Pertanian dan Kelautan Menko Perekonomian, Bayu Krisnamurthi membenarkan adanya tambahan dana yang harus dikeluarkan Bulog pada 2009.
Beli kualitas rendah
Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoesa di Yogyakarta menyatakan, Bulog harus membeli beras petani meskipun kualitasnya rendah. Hal ini untuk mengamankan harga gabah dan beras di tingkat petani. Bulog selanjutnya mengolah kembali beras kualitas rendah itu agar memenuhi standar dan layak konsumsi.
Saat ini pengadaan Bulog per hari 15.000 ton setara beras. ”Biasanya pengadaan pada panen raya 25.000 ton setara beras per hari,” kata dia.
Menurut Sutarto, musim panen padi kali ini kualitas gabah yang dihasilkan petani kurang bagus. Ini karena panen berlangsung pada musim hujan sehingga kadar air tinggi, sementara sarana pengeringan yang dimiliki petani terbatas.
Di sisi lain, tidak semua penggilingan padi memiliki sarana pengeringan yang memadai. Menurut Ketua Perhimpunan Pengusaha Penggilingan Padi Nur Gaybita, dari 110.000 penggilingan di Indonesia, hanya 5.000 unit yang memiliki alat pengeringan. Kapasitasnya pun kecil. (OIN/MAS)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: