jump to navigation

Awas Human Trafficking Gaya Baru! April 8, 2010

Posted by Desa Sima in Opini.
trackback


Oleh : Abdul Gaffar

Di sepanjang peradaban kehidupan, penjualan manusia (human trafficking) selalu mengancam dan menghantui di sekitar kehidupan cucu-cucu Hawa tanpa never ending.

Semakin canggih pencegahannya, semakin canggih pula cara-cara para pelaku untuk mengelabui para korbannya hingga mereka mudah masuk pada lingkaran Syetan yang sangat membahayakan.

Hal ini, mengacu pada data Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia (Bareskrim Polri) tercatat kasus kejahatan perdagangan manusia sepanjang lima tahun terakhir sebanyak 607 kasus. Pelakunya sebanyak 857 orang dan korban dewasa sebanyak 1.570 orang (76,4 persen) dan korban anak-anak di bawah umur sebanyak 485 (23,6 persen).

Di sinilah, muncul sikap pesimisme penulis atas perjanjian (MoU) Indonesia dan Malaysia terkait dengan kesiapan pemerintah Malaysia untuk menampung kembali TKI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT). (baca, Tajuk Rencana: Harian Analisa, 30/ 03/2010). Jangan-jangan di balik perjanjian ini, hanya akan memberi kesempatan bagi para pelaku human trafficking untuk melebarkan sayapnya.

Belajar dari pengalaman, sejak awal rekrutmen pengiriman pembantu rumah tangga (PRT) penuh dengan berbagai persoalan. Kebanyakan yang direkrut dari mereka adalah perempuan berpendidikan rendah dan berasal dari keluarga yang tergolong miskin. Beberapa di antaranya, malah berstatus anak-anak perempuan di bawah umur. Mereka inilah yang biasanya dijadikan tumbal empuk bagi para sponsor atau PL yang lazim juga disebut dengan calo TKI.

Biasanya, kegiatan rekrutmen TKI secara normal dimulai dari adanya permintaan dari pihak pengguna atau majikan yang membutuhkan TKI dengan berbagai persyaratan standar yang telah ditentukan. Kemudian TKI itu disalurkan ke pihak agen TKI luar negeri, diteruskan ke pihak Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS).

Dalam berbagai kasus, kebanyakan para pelaku human trafficking mencari mangsa anak-anak dan usia remaja, hanya berdalih memberikan pekerjaan dengan gaji yang sangat menggiurkan di luar negeri dengan berbagai kemudahan. Melalui janji pekerjaan-pekerjaan tanpa keahlian, kemudian mereka dipaksa bekerja pada industri seks saat mereka tiba di daerah tujuan.

Kasus lain, PRT khususnya di negara-negara tetangga sering kali ditraffik ke dalam kondisi kerja yang sewenang-wenang termasuk, taruhlah jam kerja wajib yang sangat panjang, penyekapan ilegal, upah yang tidak dibayar atau yang dikurangi, kerja karena jeratan hutang, penyiksaan fisik ataupun psikologis, penyerangan seksual, tidak diberi makan atau kurang makanan, dan tidak boleh menjalankan agamanya atau diperintah untuk melanggar agamanya.

Bahkan, tak tanggung-tanggung sang majikan dan agen menyita paspor serta dokumen lain untuk memastikan para pembantu tersebut tidak mencoba melarikan diri. Contohnya saja di Malaysia, badan berkerja sebagai PRT banyak dari mereka yang kembali dengan mengenaskan seperti disiksa, dipukuli, tidak dibayar gaji.

Namun dari sekian banyak kejahatan human trafficking yang mengorbankan anak-anak di bawah umur ini, baru hanya beberapa segelintir modus kasus yang terungkap. Hal ini dikarenakan kuatnya jaringan operandi kejahatan mereka dan didukung oleh lemahnya para aparat penegakan hukum, di samping persoalan sosial-ekonomi dan rendahnya tingkat pendidikan warga masyarakat menjadi fundamental atas maraknya kasus semacam ini.

Sebut saja, rekrutmen untuk perbudakan manusia dengan modus baru melalui tawaran sebagai PRT sering dipraktikkan oleh para majikan asal negara-negara tetangga seperti Malaysia bahkan Timur Tengah. Dengan langsung datang ke Indonesia untuk memilih sendiri calon-calon PRT yang dapat merangkap sebagai kalien budak belian-nya.

Dengan mudah, para calon dikumpulkan oleh perusahaan tertentu di suatu tempat, kemudian si majikan memilihnya langsung sesuai selera masing-masing. Dengan begitu, segala keperluan pemberangkatan mereka diurus oleh sang majikan melalui perusahaan yang bersangkutan.

Gaya baru perekrutan PRT oleh para pemangsa secara langsung semakin menunjukkan kepada kita bahwa kejahatan ini semakin melebarkan sayap. Tentu tindakan macam ini masuk pada kategori kejahatan kemanusiaan paling tragis di abad post modern yang siap merajalela.

Hemat penulis, tidak ada cara lain untuk memberantas kejahatan ini kecuali dengan terus melakukan upaya sistematis secara hukum dan hak asasi manusia (HAM), baik secara nasional maupun internasional. Bukankah pemerintah sudah membuat undang undang mengenai sanksi kejahatan human trafficking? Misal, dalam UU itu disebutkan setiap warga Indonesia yang melanggar pasal-pasal atas perdagangan manusia akan terkena hukuman mulai kurungan 3-15 tahun dan juga denda.

Kemudian, kita juga perlu melakukan upaya-upaya antisipasi perbaikan tatanan sosial ekonomi bangsa secara menyeluruh dan peningkatan kesadaran harga diri dan pendidikan yang lebih baik kepada setiap warga negara. Marilah kita berempati kepada sesama, dengan lebih peka terhadap keadaan sekitar dan menerapkan komitmen bagi kemajuan negara dan bangsa demi untuk menjaga martabat di mata dunia. ***

Penulis adalah Kolumnis dan Kepala Riset Kajian social pada The Banyuanyar Institute Yogyakarta

Sumber: http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=50363:awas-human-trafficking-gaya-baru&catid=78:umum&Itemid=139

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: