jump to navigation

Pekebun Mbeling dari Pemalang April 8, 2010

Posted by Desa Sima in Pertanian.
trackback
Julukan kyai mbeling – nakal dan sering keluar jalur – sudah lama tersemat pada Emha Ainun Nadjib, budayawan, dari Jombang, Jawa Timur. Itu karena cak Nun, panggilan Emha, sering beda pendapat dengan kyai kebanyakan. Toh, cak nun tetap populer dan punya banyak pengikut. Di Pemalang, Jawa Tengah, ada juga pekebun cabai mbeling: Freddy Salim. Jika pekebun lain menanam cabai di waktu-waktu tertentu, Freddy bertanam sepanjang tahun.
Sama seperti Cak Nun, Freddy malah sukses karena keluar jalur. Sekadar contoh pada Agustus – September 2008 pekebun di Pemalang memilih stop menanam cabai. Saat itu pekebun di Brebes – sentra utama berjarak 36 km – tengah panen raya dari hasil penanaman April – Mei. Pekebun di Brebes mengincar harga tinggi menjelang Idul Fitri.

Apa lacur karena produksi melimpah harga justru anjlok. Toh Freddy tetap membuka lahan cabai seluas minimal 15 ha. Itu kelanjutan dari penanaman bulan-bulan sebelumnya, masing-masing juga minimal 15 ha. “Pekebun lain kebanyakan latah. Tanam rama-ramai di saat harga tinggi dan berhenti di kala harga jatuh,” kata Freddy. Nyatanya malah banyak yang merugi.

Sepanjang tahun

Pemain lain ada yang menerapkan strategi berbeda. Mereka menanam di saat harga jatuh dan berhenti di saat harga tinggi. Tujuannya mereka panen di saat pasokan dari pekebun lain kosong. Strategi itu ternyata juga tak cukup ampuh. “Secara teori, strategi-strategi itu benar, tapi tak selalu berlaku di lapangan. Siapa yang bisa jamin cabai yang ditanam pekebun secara berbarengan sukses dipanen semua. Bisa jadi ada hujan lebat di kala musim panen sehingga produksi menurun dan harga justru melonjak,” ungkap alumnus SMA Bernardus, Pekalongan itu.

Pengalaman pria kelahiran 49 tahun silam selama 31 tahun itu membuktikan bertanam cabai penuh spekulasi. Harga cabai seperti gelombang transversal yang turun naik dan sulit diduga. Suatu kali harga bisa melonjak hingga Rp20.000 per kg, tapi berikutnya melorot di bawah Rp5.000. “Yang pasti selalu ada 5 – 7 bulan dalam setahun harga tinggi,” kata Freddy.

Namun, kapan jatuhnya masa itu sulit diprediksi. “Satu-satunya cara agar untung, pekebun mesti bertanam sepanjang tahun,” imbuh Freddy. Paling-paling pada off season, Januari – Februari, saat curah hujan tinggi, lahan yang ia tanam lebih sedikit, 5 ha. “Itu untuk meminimalisir kerugian. Kontrol kebun pun lebih mudah,” katanya.

Omzet miliaran

Bermodal strategi mbeling itu “kerajaan” bisnis cabai Freddy menggurita. Saat pertama menanam pada 1978 luas lahannya hanya 1 ha. Pada 2008 menjadi 30 ha. Kini total luas lahan yang dikelola setiap tahun 50 ha. Jenis yang ditanam cabai hibrida dan lokal. Pilihan itu karena jenis tersebut disukai konsumen. Pasar dibuka dengan cara Fredy menyambangi pasar untuk menjajakan cabai produksinya. Kini ia rutin memasok 2 – 3 ton per hari ke Pasar Induk Kramatjati, Jakarta dan Caringin, Bandung.

Dari sanalah pria yang sehari-hari mengendarai Cherooke itu mengantongi omzet Rp6-miliar – Rp8-miliar pada 2009. Laba dari bisnis sayuran pedas itu pun diputar ke bisnis lain. Sebut saja, sebuah penginapan berkamar 15 buah di tengah kota Pemalang dan restoran seafood.

Toh, jalan terjal selalu saja menghadang. Enam belas tahun silam ia merugi setengah miliar rupiah. Musababnya, 15 – 20 ton cabai per hari untuk ekspor ke Taiwan dan Singapura dihargai di bawah biaya produksi, Rp5.000/kg. Eksportir kerap memainkan harga di saat pasokan cabai melimpah. Tak cuma harga yang diayun-ambing, pasokan pun kerap ditolak. “Alasannya di-reject negara pembeli,” ujar Freddy.

Karena bosan dipermainkan eksportir, sejak 1998 ayah 4 anak itu berhenti melayani pasar mancanegara. Kerugian lain juga mesti ia tanggung. Serangan thrips di lahan seluas 3,5 ha membuat suami Nanik Salim itu kehilangan Rp315-juta.

Ganjal dengan tumpangsari

Namun, lagi-lagi Freddy mbeling. Meski merasakan rugi berkali-kali ia terus menanam cabai. Ia yakin berikutnya laba yang bakal dituai. “Itulah gunanya berkebun sepanjang tahun, suatu ketika pasti ketemu harga bagus,” kata Freddy. Untuk meminimalisir rugi, Freddy pun menerapkan sistem tumpangsari. Kerugian Rp315-juta pada 2008 tertutup dari panen bawang merah yang ditanam rapat di bedengan cabai.

Dengan pengalaman selama 3 dasawarsa itu Freddy layak dicontoh. “Menanam berkelanjutan bisa dilakukan setiap bulan di lahan lebih sempit, ujarnya. Misalnya dengan 12 ha, pekebun menanam 1 ha per bulan. Di lahan lebih sempit lagi, 6 ha, pekebun menanam 1/2 ha cabai setiap bulan. Kini di Pemalang ada 20 pekebun lain mempraktekkan cara mbeling Freddy yang terbukti sukses. (Destika Cahyana & Faiz Yajri)

Freddy Salim, tanam cabai sepanjang tahun untuk dapatkan 5 – 7 bulan harga tinggi di setiap tahun

Harga cabai seperti gelombang transversal. Terkadang di atas Rp20.000 per kg, tapi kerap melorot menjadi Rp5.000

Setiap bulan siapkan bibit untuk penanaman 5 – 15 ha

Sumber: Majalah Trubus Online

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: