jump to navigation

Merajut Komunikasi Desa-desa Terpencil Desember 6, 2010

Posted by Desa Sima in Teknologi.
Tags: , , ,
trackback

SUASANA lapangan Desa Ranupani di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Rabu (20/5) tampak ramai dipadati ratusan warga.

Mereka berkumpul dan berbaur untuk menyaksikan peluncuran program “Universal Service Obligation” (USO), yakni pembangunan akses telekomunikasi dan informatika di pedesaan, terutama desa-desa terpencil.

Ranupani yang terletak di kaki Gunung Semeru pada ketinggian 2.300 meter diatas permukaan laut (dpl), merupakan salah satu desa terpencil yang menjadi sasaran program tersebut.
Sejak bertahun-tahun lamanya, desa yang terletak sekitar 27 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Lumajang itu, tidak terjangkau sarana telekomunikasi, baik telepon kabel maupun seluler.

Ketiadaan sarana telekomunikasi tidak membuat sekitar 1.258 jiwa warga yang tinggal di Desa Ranupani merasa terisolir atau ketinggalan teknologi telekomunikasi seluler.

Beberapa waktu lalu, sebuah operator seluler berbasis CDMA sudah membuka akses telekomunikasi di desa tersebut, tapi jaringan komunikasinya tidak maksimal.

Letak geografis Desa Ranupani yang berada di dataran tinggi dan dikeliling perbukitan serta pegunungan, menyulitkan warga mendapatkan sinyal telepon seluler untuk melakukan komunikasi dengan “dunia luar”.

Bahkan, belasan warga pengguna seluler CDMA tersebut, berusaha memasang antene di atas rumahnya dengan tujuan menguatkan sinyal, tapi hasilnya tetap tidak memuaskan.

“Kalau ada sesuatu yang sangat mendesak atau penting, kami harus berjalan sekitar dua kilometer lebih untuk mendapatkan sinyal bagus, baru bisa memakai telepon,” kata Kepala Desa Ranupani, Thomas Hadi.

Sebelum operator CDMA itu masuk, sebagian warga Ranupani juga sudah memiliki telepon seluler, meskipun hanya bisa dipakai saat berada di luar desa.

“Kalau warga di sini dikatakan gaptek, tidak juga. Sebagian sudah kenal `handphone` sejak lama, hanya memang tidak bisa dipakai ketika mereka ada di desa,” tambah Thomas.

Upaya mendapatkan jaringan telekomunikasi sudah dilakukan warga Ranupani sejak awal 1990-an dengan mendekati PT Telkom, tapi tidak berhasil.

Menurut Tokoh Masyarakat Desa Ranupani, Mbah Tasrip (77), Telkom pernah melakukan survei lokasi, tapi akhirnya tidak sanggup membuka jaringan telepon.

“Katanya lokasi Ranupani terlalu jauh dan perlu investasi besar untuk pemasangan jaringan kabel. Belum lagi kendala pemeliharaan,” kata Mbah Tasrip.

Ia menambahkan sejak lama warga berharap akses telekomunikasi di desanya bisa dibuka. Apalagi, Ranupani menjadi salah satu desa yang banyak dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara, ketika ingin mendaki Gunung Semeru.

Potensi pertanian, khususnya sayur-sayuran dari Desa Ranupani juga cukup besar. Bahkan, komoditas sayur Daun Kapri asal Ranupani sudah merambah pasar ekspor.

“Desa Ranupani menjadi satu-satunya jalur pendakian menuju Gunung Semeru. Setiap wisatawan yang ingin mendaki, pasti lewat sini,” tambah Mbah Tasrif.

Program USO

Keinginan warga Desa Ranupani untuk mendapatkan akses telekomunikasi dengan baik akhirnya terwujud, setelah diluncurkannya program USO oleh pemerintah.

Di seluruh wilayah Indonesia, program penyediaan layanan “voice” (suara) dan SMS yang lebih dikenal dengan program “Desa Berdering” itu, akan menjangkau lebih kurang 31.824 desa yang tersebar di 4.300 kecamatan.

Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) menargetkan seluruh desa di Indonesia sudah terjangkau akses telekomunikasi dan informatika pada 2010 mendatang.

Pada 2009 ini, program USO diharapkan sudah menjangkau sebanyak 24.056 desa di berbagai wilayah Indonesia, kecuali Maluku dan Papua.

Depkominfo telah mengamanahkan kepada operator seluler PT Telkomsel Tbk sebagai pelaksana pembangunan, setelah memenangkan tender proyek dengan investasi sekitar Rp1,6 triliun.

“Kami sudah mengalokasikan dana tidak kurang Rp600 miliar untuk pembangunan proyek ini dengan menggandeng 86 mitra kerja atau vendor,” kata Direktur Utama Telkomsel, Sarwoto Atmosutarno saat peluncuran proyek tersebut di Desa Ranupani.

Ada lima paket program USO yang akan diselesaikan Telkomsel tahun ini, yakni Paket 1 meliputi desa-desa di wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Paket 2 mencakup Jambi, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung. Kemudian Paket 3 meliputi seluruh wilayah Kalimantan.

Sedangkan Paket 6 terdiri dari wilayah Bali dan Nusa Tenggara, serta terakhir Paket 7 meliputi Provinsi Banten, Jawa Barat, D.I Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Untuk paket program USO di wilayah Maluku dan Papua, Depkominfo baru menawarkan tender proyek tersebut pada pertengahan tahun ini.

Saat peluncuran program USO yang bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional ke-101 di Desa Ranupani, Telkomsel telah menyelesaikan pembangunan akses telekomunikasi dan informatika di 200 desa.

“Kami telah melaksanakan tender pengadaan semua komponen program USO, seperti repeater, devide FWT (Fix Wireless Telepon), satelit VSAT-IP, dan lainnya. Ada 86 vendor lokal dan lima vendor global yang ikut tender tersebut,” kata Sarwoto.

Ia menjelaskan sampai dengan akhir Juni 2009, diharapkan 2.400 desa sudah terpasang instalasi.

Percepatan pembangunan instalasi dilakukan mulai Juli, dimana dari empat vendor, masing-masing ditargetkan mampu melakukan pemasangan repeater dan FWT pada sekitar 4.000-5.000 desa setiap bulannya.

Untuk 6.000 desa yang membutuhkan akses satelit VSAT-IP, enam vendor yang telah ditunjuk Telkomsel, pada setiap bulannya masing-masing diharapkan bisa menyelesaikan pemasangan di 400-500 desa.

“Sehingga pada akhir 2009, sebanyak 24.056 desa yang menjadi sasaran program USO, sudah dapat menikmati akses telekomunikasi dan informatika,” jelas Sarwoto.

Program USO juga menjadi pengembangan jaringan Telkomsel “MERAH PUTIH” (MEnembus daeRAH Pedesaan, indUstri TerpencIl dan baHari) yang menyasar wilayah perbatasan Australia dan Papua Nugini.

Tidak hanya sampai disitu, Telkomsel juga menambahkan manfaat USO dengan menghadirkan Pusat Layanan Telekomunikasi dan Informasi Pedesaan (Pusyantip), portal lumbung desa dan desa pintar.

Pusyantip dan portal lumbung desa bertujuan memajukan perekonomian desa atau daerah, sedangkan desa pintar dimaksudkan untuk menghilangkan kesenjangan informasi dan pendidikan melalui akses internet.

Banyak Kendala

Pembukaan akses telekomunikasi dan informatika di wilayah pedesaan, bukan persoalan mudah karena banyak kendala yang dihadapi.

Selain investasi yang sangat besar, ketersediaan jaringan listrik dan kondisi geografis setiap desa yang berbeda juga menjadi persoalan tersendiri.

“Tapi pemerintah sudah mencanangkan bahwa pada 2010 mendatang, seluruh desa-desa di Indonesia sudah tersambung akses telekomunikasi dan informatika,” kata Dirjen Postel Depkominfo, Basuki Yusuf Iskandar di Desa Ranupani.

Menurut ia, pembukaan akses telekomunikasi pedesaan hanya “entry point” untuk menuju peradaban yang lebih baik.

Program USO sudah disiapkan pemerintah sejak 2005 dengan jangkauan sekitar 43.000 lebih desa. Namun, karena munculnya berbagai kendala, program ini baru terlaksana pada 2009.

Portal Depkominfo menyebutkan program Desa Berdering di 31.824 desa dan internet (Desa Pintar) di 4.300 kecamatan di seluruh Indonesia, akan diselesaikan sampai dengan 2010.

Sebanyak 24.015 telepon desa dan 69 internet desa di 22 provinsi akan diselesaikan pada tahun 2009. Selanjutnya pada tahun 2010 akan diselesaikan 7.773 telepon desa dan 31 internet desa di 10 provinsi.

Basis teknologi yang digunakan pada telepon desa dan internet desa adalah teknologi yang memiliki “life time” jangka panjang dan dapat dikembangkan untuk layanan yang lebih berguna pada saatnya nanti.

“Program ini diharapkan mampu menciptakan efek berganda di segala bidang, sehingga kemakmuran seluruh pelosok Indonesia dapat dinikmati secara merata hingga ke desa-desa terpencil sekalipun,” tambah Dirjen Postel.

Untuk mengatasi kendala geografis dalam membangun jaringan telekomunikasi pedesaan, Telkomsel menciptakan metode inovatif “MEDIAna” (Media Evaluation Deployment Integrated Analysis).

Aplikasi metode tersebut membagi solusi teknologi dalam tiga katagori ketersediaan sinyal (kuat, lemah dan tanpa sinyal), serta dua katagori ketersediaan listrik.

Misalnya pada wilayah yang masuk katagori tanpa sinyal dan listrik, disiapkan teknologi PICO BTS, antene VSAT-IP, solar cell (tenaga matahari) sebagai penyuplai tenaga listrik, FWT, dan lainnya.

Selain solar cell, penyediaan tenaga listrik pada daera-daerah terpencil juga bisa diatasi melalui pemanfaatkan micro hydro (tenaga air) dan win turbin (tenaga angin).

“Yang jelas, kami punya komitmen bahwa nantinya tidak ada lagi wilayah Indonesia yang terisolir dan NKRI benar-benar terajut indah dengan adanya jaringan komunikasi,” kata Dirut Telkomsel, Sarwoto Atmosutarno. ant

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: