jump to navigation

Davos, Permen Klangenan yang Tetap Jozz Juli 5, 2011

Posted by Desa Sima in Nusantara.
Tags: ,
trackback

Masyarakat Jawa Tengah Bagian Selatan dan sekitarnya, permen Davos merupakan permen yang sangat melegenda. Hampir setiap toko ataupun warung, permen Davos merupakan menu wajib yang harus ada.
Adalah PT Slamet Langgeng, sang legenda produsen permen Davos sejak tahun 1931 ini.
PT Slamet Langgeng beralamat di Jalan Jenderal A Yani, Purbalingga sebuah kota kecil di sebelah timur kota Purwokerto. Perusahaan ini dikelola secara turun temurun dan saat ini telah memasuki generasi ke 3 dibawah komando Nicodemus Hardi.
Menurut sejarah Davos sendiri adalah nama sebuah kota berhawa dingin di Swiss. Kota kecil di lereng Pegunungan Alpen itu menginspirasi PT Slamet Langgeng menamai permen produksinya yang disinyalir merupakan permen rasa mentol pertama di Indonesia.
 
Sebagai perusahaan yang telah melegenda, tentunya suatu pekerjaan berat untuk tetap mempertahankan eksistensinya. Permen Davos identik dengan permen bundar berwarna putih yang terbungkus kertas biru tua. Apalagi sebelumnya Permen Davos memiliki image sebagai permen orang tua. Untuk mengubah image ini berbagai macam terobosan dilakukan oleh manajemen PT Slamet Langgeng salahsatunya diferensiasi produk.
Dengan adanya kemajuan dan perkembangan yang semakin pesat, maka pada tanggaL 6 Mei 1959 perusahaan yang pada muLanya berbentuk perusahaan perseorangan berubah menjadi Perusahaan Komanditer (CV). Bentuk CV tidak berumur lama karena seteLah berjaLan 2 tahun berbentuk perusahaan diubah menjadi Perseroan Terbatas (PT). Tepatnya tanggaL 31 Maret 1971 dengan akta notaris No.24 disahkan PT. Purbosari & CO, tetapi karena penoLakan Menteri Kehakiman R.I di Jakarta maka diadakan perubahan nama menjadi PT. Slamet Langgeng yang tertuang daLam akta notaris No.44 tanggaL 29 September 1961. Bidang aktivitas perusahaan saat itu meLuputi usaha produksi daLam bentuk permen dengan merek Davos Roll, Davos Lux, Davos Classic, Davos Mild, dan Davos Fruit.
Untuk mengubah image tersebut saat ini Davos memproduksi Davos Classic yang merupakan produk inovasi perdana yang tengah diluncurkan ke pasar. Permen ini sebenarnya sama persis dengan permen Davos Roll yang lama, tetapi kemasannya dimodernisiasi menggunakan pillow pack..
Selain itu Davos akan menyusul produk inovasi lain untuk menyesuaikan dengan perkembangan kebutuhan dan selera pasar. Misalnya, permen untuk anak-anak dan remaja, dan permen sugar free.Untuk mendukung pemasaran Davos juga menggunakan beberapa konsultan pemasaran untuk mendukung Above the Line dan juga Brand Activation. Selain itu Davos juga menggunakan tagline baru ” Cara Baru Menikamati Davos”


Sejarah Permen Davos
Diawali dari usaha Bapak Siem Kie Djian yang pada tanggaL 28 Desember 1931 mendirikan perusahaan perseorangan dengan nama “SLAMET” di Jalan Pasar 35, sekarang terkenaL dengan Jalan Jend. A. Yani 67. Perusahaan ini terLetak di Kabupaten Purbalingga, wiLayah Karesidenan Banyumas, Propinsi Jawa Tengah. Perusahaan ini memproduksi kembang guLa jenis permen dengan merk Davos.
Awalnya seLuruh kegiatan tata usaha perusahaan dipegang dan diawasi oLeh pengusaha sendiri. Kapasitas produksi pada tahun 1931 beLum dapat dicatat secara definitif. Antara tahun 1933 sampai dengan 1942 perusahaan mengaLami masa kejayaan. Perkembangan dan kemajuan yang diaLami perusahaan mendorong dibukanya produksi limun pada 1933 dan biskuit pada 1937.
PT. Slamet Langgeng dipimpin oLeh Bapak Siem Tjong An sejak tahun 1961 sampai dengan tahun 1968, dan pada tahun 1968 jabatan pimpinan perusahaan diserahkan kepada Bapak Toni Sisiwanto Hardi dikarenakan Bapak Siem Tjong An meLanjutkan studi ke Belanda. Bapak Toni Siswanto Hardi memimpin PT. Slamet Langgeng sampai dengan akhir buLan Juni 1983 karena beLiau meninggaL dunia. Sejak itu perusahaan ini dipimpin oLeh Ibu Corie Sumadibrata sampai dengan Mei 1985. Karena faktor usia, maka jabatan pimpinan diserahkan kepada Bapak Budi Handoyo Hardi sejak tanggaL 1 Juni 1985 sampai dengan sekarang.

Dari Berbagai Sumber2

Komentar»

1. rumput dan ilalang - Juli 9, 2011

>sudah lama banget ga beli DAVOS, dulu jaman masih SD sering banget

2. Desa Sima - Juli 13, 2011

>ya mas bro, jaman nang kampung dulu permennya davos…

3. Portal Berita Purbalingga - Juli 15, 2011

bangga kotaku penghasil permen Davos

Desa Sima - Juli 20, 2011

Semoga Purbalingga semakin maju, dan menjadi inspirasi kota-kota lain…amin

salam hangat bangsa Ngapaks…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: