jump to navigation

Alquran dan Lailatul Qadar Agustus 15, 2011

Posted by Desa Sima in Agama.
trackback
 “Sesungguhnya kami telah menurunkan Alquran pada malam qadar.” (QS al-Qadar [97]: 1).

Suatu hari, dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW berkisah kepada para sahabat tentang seorang seorang yang saleh dari Bani Israil. Orang tersebut menghabiskan waktunya selama 1.000 bulan untuk berjihad fisabilillah. Mendengar kisah itu, para sahabat merasa iri karena tak bisa memiliki kesempatan untuk beribadah selama itu.

Usia umat Nabi Muhammad SAW memang lebih pendek dari umat terdahulu. Dalam riwayat lainnya disebutkan, Rasulullah SAW pernah merenungi hal itu. Nabi SAW pun bersedih karena mustahil umatnya dapat menandingi amal ibadah umat-umat terdahulu.

“Dengan penuh kasih sayang yang tak terhingga, Allah SWT lalu mengaruniakan lailatul qadar kepada umat Nabi Muhammad SAW,” ungkap Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi dalam kitab Fadha’il Ramadhan. Menurutnya, lailatul qadar adalah suatu malam karunia Allah yang sangat besar kebaikan dan keberkahannya.

Lalu, apa sebenarnya lailatul qadar itu? Lailatul qadar berarti malam yang penuh dengan kemuliaan. Pada malam itu, kata dia, diturunkan Alquran yang memiliki kemuliaan melalui seorang malaikat yang juga sangat mulia dan diterima seorang nabi yang juga sangat mulia.

Qadar bisa bermakna ukuran. Ukuran segala sesuatu itu ditetapkan pada malam itu, rezeki seseorang, apakah dia bahagia atau tidak? Sampai setahun ke depan ditetapkan pada malam itu. Lailatul qadar memiliki sejumlah keistimewaan. Betapa tidak. Pada malam itu Alquran diturunkan. Selain itu, lailatul qadar itu lebih baik dari 1.000 bulan.

Pada malam itu para malaikat dan ar-Ruh (yang dimaksud adalah Malaikat Jibril) turun ke bumi.  Para malaikat itu turun dengan membawa rahmat dan keberkahan. Yang tak kalah penting, malam yang istimewa itu membawa kedamaian dan rasa aman kepada siapa saja yang menjumpainya sampai terbit fajar.

Dalam sebuah riwayat, yang dimaksud fajar adalah terbit fajar di keesokan harinya. Tapi, hatta mathla’il fajr berarti sampai tiba saatnya fajar kehidupannya yang baru di akhirat nanti. Lalu, seperti apa ciri-ciri akan datangnya lailatul qadar?

Tanda-tanda fisik-seperti yang populer di kalangan masyarakat-bahwa malam itu tenang, angin sepoi-sepoi, kemudian matahari di keesokan harinya berawan dan tidak terlalu panas. Namun, riwayat-riwayatnya tidak dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.

Tanda-tanda fisik semacam itu secara logika memang sulit diterima. Karena, sangat relatif, bergantung pada musim. Kalau musim hujan, ya pasti mendung. Apalagi dengan perubahan iklim sekarang. Jadi, tanda-tanda fisik itu tidak bisa dijadikan ukuran. Tanda yang pasti adalah salaamun hiya hatta mathla’il fajr.

Yang utama, salah satu tanda yang pasti dari lailatul qadar adalah orang selalu merasa damai,  selalu menebar kedamaian dalam hidupnya sampai dia meninggal dunia bahkan sampai dibangkitkan kembali menyongsong fajar kehidupan yang baru.

Tak ada seorang pun yang tahu kapan tamu agung itu akan datang. Hanya Allah SWT yang mengetahui kapan malam yang lebih baik dari 1.000 bulan itu akan menghampiri hambanya. Terlebih, sebagai tamu agung, lailatul qadar hanya dianugerahkan kepada orang-orang yang mendapat taufik dan beramal saleh pada malam itu. Mengapa begitu? Supaya kita semakin giat mencarinya sepanjang hari, khususnya pada malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan.

Sesungguhnya, lailatul qadar itu memiliki banyak makna. Lailatul qadar bisa diartikan secara fisik bahwa betul-betul memang malam itu ada sesuatu yang istimewa. Pada malam itu, Malaikat turun berbondong-bondong sangat luar biasa, dan hanya detik itu, menit itu, atau jam itu. Ada lagi yang memaknai lailatul qadar simbolis sesungguhnya. Laila artinya malam. Malam bisa berarti keheningan, kesyahduan, kepasrahan, tawakal, kerinduan, kehangatan, termasuk juga kekhusyukan.

Sebagaimana banyak dijelaskan dalam berbagai buku sejarah, termasuk Sirah Nabawiyyah, lailatul qadar itu hanya terjadi sekali dalam setahun, yakni hanya pada bulan Ramadhan. Dan itu pun waktunya tidak ditentukan. Ada yang berpendapat, terjadi di malam ganjil pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Karena begitu mulianya lailatul qadar, Rasulullah SAW mengajak seluruh sahabatnya, istri-istrinya, sampai kepada pembantu-pembantunya untuk memperbanyak ibadah. Karena itu, ketika istri-istri Rasulullah diminta untuk mencari lailatul qadar, Aisyah ra berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana kalau saya yang mendapatkan? Apa yang harus saya baca? Minta rumah, minta kekayaan, atau minta yang lainnya?

Rasulullah mengajarkan, bacalah “Allahumma innaka afuwwun karim tuhibbul afwa fa’fu anni (Ya Allah Engkalau Yang Maha Pengampun Lagi Maha Pemurah. Engkau senang mengampuni hamba-hambaMu, karena itu ampunilah dosa-dosaku)”.


Keistimewaan Penghafal Alquran

Alquran adalah kitabullah yang diturunkan lafal dan maknanya kepada Nabi Muhammad SAW. Alquran adalah kitab suci yang kekal abadi serta terpelihara dan dijaga oleh Allah SWT sampai akhir zaman.

Allah SWT berfirman dalam surah al-Hijr ayat 9: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami yang benar-benar memeliharanya.” Rasulullah SAW memelihara Alquran dengan menghafalkan setiap ayat yang diwahyukan kepadanya.

Bahkan, Allah SWT telah menjamin terpeliharanya hafalan Nabi SAW terhadap ayat-ayat Alquran. “Janganlah kamu menggerakkan lidahmu untuk (membaca) Alquran karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.” (QS al-Qiyamah: 16-17)

Rasulullah SAW sangat mendorong sahabat dan umatnya untuk menghafal ayat-ayat suci Alquran. Orang-orang yang menghafal Alquran mendapat posisi yang istimewa di mata Allah SWT dan Rasulullah SAW. Mereka yang menjaga Alquran lewat hafalan akan mendapat posisi yang terhormat dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.

Nabi Muhammad SAW mengibaratkan orang yang tak memiliki hafalan Alquran sebagai gubuk kumuh yang nyaris roboh. “Orang yang tidak mempunyai hafalan Alquran sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh.” (HR Tirmidzi). Lantas, apa saja keistimewaan yang akan diraih seorang hamba yang menghafal Alquran?

Alquran merupakan pedoman hidup bagi orang yang ingin bahagia di dunia dan akhirat. Menurut dia, Rasulullah SAW mendorong umatnya untuk mencintai Alquran. Amr bin Salmah, seorang sahabat Nabi SAW, karena kemampuannya menghafal Alquran, pada usia tujuh tahun telah mendapat posisi yang istimewa di kalangan masyarakatnya. Atas kepandaiannya menghafal Alquran, ia selalu ditunjuk menjadi imam shalat jamaah atau shalat jenazah.

Hal itu sesuai dengan hadis Nabi SAW, “Orang yang paling banyak menghafal ayat-ayat Alquran lebih utama untuk menjadi imam.” Demikian pula dengan Ibnu Abbas. Pada usia 10 tahun, ia telah hafal 30 juz. (Bukhari, Fathul Bari). Ia pun kemudian menjadi ulama besar dalam tafsir karena ingatan yang sangat terjaga pada masa kanak-kanak. “Ahli tafsir terbaik adalah Ibnu Abbas,” ujar Abdullah bin Masud.

Bahkan, mereka yang mampu menghafal Alquran dalam sebuah hadis disebutkan akan merasakan nikmat kenabian. Bedanya, ia tidak mendapatkan wahyu. “Barang siapa yang membaca (hafal) Alquran, sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian. Hanya saja, tidak diwahyukan kepadanya.” (HR Hakim)

Selain itu, Alquran juga menjanjikan kebaikan, berkah, dan kenikmatan bagi penghafalnya. Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.”

Mereka yang hafiz Alquran pun akan mendapatkan penghargaan khusus dari Rasulullah SAW. Hal itu pernah terjadi ketika proses pemakaman para syuhada yang gugur di Perang Uhud. “Adalah Nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud, kemudian beliau bersabda, ‘Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Alquran? Ketika ditunjuk kepada salah satunya, beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.'” (HR Bukhari).

Nabi SAW pun lebih memercayai orang yang memiliki hafalan Alquran paling banyak sebagai pemimpin. Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah SAW telah mengutus sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka. Mereka satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal. Maka sampailah pada Shahabi, yang paling muda usianya, beliau bertanya, ‘Surah apa yang kau hafal?'”
 
“Aku hafal surah ini… surah ini… dan surah al-Baqarah.”
“Benarkah kamu hafal surah al-Baqarah?” tanya Nabi lagi.
“Benar,” jawab Shahabi.

Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR Turmudzi dan An-Nasa’i). Selain itu, orang-orang yang hafal Alquran adalah mereka yang diberi ilmu. Tak heran, jika anak-anak yang hafiz Alquran mampu menoreh prestasi yang cemerlang di sekolahnya.

Bahkan, ada pula hadis yang menempatkan para hafiz di posisi yang amat mulia. “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia. Para sahabat bertanya, ‘Siapakah mereka, ya Rasulullah?’ Rasul menjawab, ‘Para ahli Alquran. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.'” (HR Ahmad).

Selain mendapat jaminan kemuliaan di dunia, di akhirat kelak nanti para penghafal Alquran akan memiliki derajat yang lebih tinggi. Jaminannya adalah surga. Sungguh, luar biasa. Umat Muslim pun diajarkan untuk menghormati para penghafal Alquran. N


Jejak Penerjemahan Alquran

Pada Zulhijah tahun ke-6 Hijriah, Rasulullah SAW berkirim surat kepada para raja dan penguasa di dunia, antara lain, Kaisar Najasyi penguasa Abyssinia dan Kaisar Heraclius dari Bizantium. Rasulullah mengajak para raja dan penguasa dunia pada zaman itu untuk memeluk agama Islam.

Afnan Fatani (2006) dalam Translation and the Qur’an mengungkapkan, dalam suratnya kepada para raja dan penguasa dunia, Rasulullah mencantumkan ayat Alquran. Dr Akram Dhiya al-Umuri dalam Shahih Sirah Nabawi menyatakan, ayat Alquran yang dimuat dalam surat Rasulullah SAW itu adalah surah Ali Imran ayat 64.

Itulah kali pertama ayat Alquran diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Peristiwa itu, menurut Afnan, boleh dikatakan sebagai upaya penerjemahan ayat Alquran untuk pertama kalinya. Proses penerjemahan Alquran didasari pada kebutuhan umat yang berasal dari bangsa non-Arab untuk memahami makna dan pelajaran yang dikandung dalam Alquran.

Apalagi, sejak era kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan, wilayah kekuasaan Islam meluas hingga ke luar Jazirah Arab. Keinginan untuk menerjemahkan Alquran juga dikuatkan oleh  perintah Allah SWT dalam surah al-Qamar [54]: 17. “Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran.”

Menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa lain bukanlah pekerjaan mudah. Betapa tidak. Alquran merupakan mukjizat yang menggunakan bahasa Ilahiah, yang tak mungkin dapat ditandingi manusia manapun.

Menerjemahkan Alquran selalu menjadi sebuah problematika dan isu yang sulit dalam teologi Islam. Karena, Muslim menghormati Alquran sebagai mukjizat dan tak bisa ditiru, ujar Afnan. Terlebih, kata-kata dalam Alquran memiliki berbagai arti bergantung pada konteks sehingga untuk membuat sebuah terjemahan yang akurat amatlah sulit.

Sesungguhnya menerjemahkan Alquran bukanlah usaha untuk menduplikasi atau mengganti teks Alquran yang asli. Kedudukan terjemahan dan tafsir yang dihasilkan manusia tidak sama dengan Alquran itu sendiri. Keaslian dan kemurnian Alquran dijaga oleh tangan Ilahi.

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya. (QS al-Hijr [15]: 9). Usaha manusia dalam menerjemahkan bahasa Ilahiah sangat bergantung pada kapasitas manusia itu sendiri, ungkap Ziyadul Ul Haq dalam bukunya Psikologi Qurani.

Guru Besar Sastra Arab Universitas Islam Madinah al-Munawwarah, Syekh Tamir Salum, mengungkapkan, berdasarkan data sejarah, proses penerjemahan Alquran dalam bentuk surah untuk pertama kalinya dilakukan oleh sahabat Nabi bernama Salman al-Farisi. Ia menerjemahkan surah al-Fatihah atas permintaan umat Muslim di Persia.

Sedangkan, penerjemahan Alquran secara lengkap pertama kali dilakukan pada 884 M di Alwar (Sindh, India, sekarang bagian dari Pakistan). Adalah Khalifah Abdullah bin Umar bin Abdul Aziz yang memerintahkan penerjemahan Alquran itu atas permohonan penguasa Hindu, Raja Mehruk.

Sejak saat itulah, penerjemahan Alquran ke dalam berbagai bahasa di dunia dilakukan. Pada 1936, Alquran telah diterjemahkan ke dalam 102 bahasa di dunia. Di Eropa, penerjemahan Alquran pertama kali dilakukan pada abad ke-12 M. Orang yang menerjemahkan Alquran pertama di Eropa itu bernama Petrus Agung atau Peter The Venerable asal Prancis, seorang kepala biara Gereja Cluny. (HRHR/Republika)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: