jump to navigation

Sensasi Sarung Goyor Agustus 15, 2011

Posted by Desa Sima in Seputar Pemalang.
trackback

SARUNG  yang biasa diidentikkan dengan busana muslim, menjelang Lebaran seperti sekarang ini, banyak diburu orang. Tak terkecuali sarung goyor dari Kabupaten Pemalang. 

Produk unggulan daerah itu kini kian tersohor. Tak hanya diminati pasar lokal, melainkan tembus manca negara, seperti Somalia, Yaman, Jedah, Mesir, Arab Saudi, dan Turki. 

Permintaan sarung go­yor, baik di dalam negeri maupun luar negeri me­ningkat, antara 20 persen hingga 40 persen dari jumlah produksi sebe­lumnya. Diperkirakan terus mening­kat hingga Lebaran. 


Sebab, banyak perantau yang membeli sarung itu untuk oleh-oleh. Harganya dibandrol sekitar Rp 1,8 juta per kodi.

Ya, sarung ikat tenun yang disebut warga Pema­lang ‘’toldem’’  itu awalnya hanya produk industri rumah tangga. Lambat laun putra-putra daerah mampu membesarkan usaha tersebut, hingga akhirnya berdiri pabrik berskala besar. 

Meski demikian, masih banyak pula usaha berskala mikro. Jumlahnya mencapai ratusan unit, dan paling banyak ada di Desa Wana­rejan Utara, Kecamatan Taman.

Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perda­gangan, Tri Setyawati me­ngatakan, industri sarung goyor di Wanarejan Selatan ada sejak 1953. 

Jumlah pengusaha sa­rung goyor mencapai 169 orang. Mereka menyerap tenaga kerja sebanyak 3.375 orang, pada 2009.

Sedangkan jumlah peng­usaha sarung goyor se-Kabupaten Pemalang pada 2009 mencapai 199 orang. Tenaga kerja yang terserap sebanyak 3.666 orang. Kapa­sitas produksinya mencapai 802.020 potong pada tahun tersebut.

Sarung itu digemari hingga manca negara karena be­nangnya kuat, lebih tebal, lebih longgar atau dalam bahasa Pemalang ‘’goyor’’ dan terasa adem saat dikenakan. 

Agus (42) salah satu pemakai sarung goyor, ter­tawa saat ditanya mengenai sensasi menggunakan sa­rung toldem. Lantaran  istilah sarung toldem sudah lama sekali tidak digunakan. ”Rasa adem saat dikenakan itulah yang menyebabkan pema­kainya berkelakar menyebutnya sebagai sa­rung toldem.”

Ahmad Rousul Amir, pengusaha sarung goyor mengatakan, sarung goyor lebih banyak dijual ke luar negeri, antara lain ke Somalia , Yaman, Jedah, Mesir, Arab Saudi dan Turki. Harganya dipatok antara 150 dolar AS hingga 400 dolar AS, bergantung kualitasnya.

Motif sarung produk­sinya sebagian besar mawar dengan enam kelopak daun dan kembang enam. Motif lainnya mawar 8, mawar 10, dan botolan.

Amir yang mengelola usaha milik ayahnya H Sultoni, setiap bulan mampu memproduksi 400 kodi sarung. Ia mempekerjakan 200 karyawan. Upah kar­yawannya ditetapkan dalam bentuk borongan sesuai de­ngan pekerjaannya. Untuk upah penggambar sebesar Rp 20.000.

Perajin sarung goyor yang lain, Usman menga­takan, untuk memproduksi satu sarung goyor membutuhkan waktu sekitar dua minggu dengan biaya produksi Rp 75.000 per buah. 

”Sedangkan kemampuan warga untuk membeli sarung hanya Rp 50.000 per buah. Daya beli masyarakat sangat rendah. Namun, jika sarung ATBM ini diekspor, harganya mencapai Rp 150.000-Rp 200.000 per buah.”

Dia mengatakan, untuk mengeskpor sarung itu modalnya cukup besar. Sebab, sekali ekspor minimal sekitar 1.000 kodi atau senilai Rp 2 miliar lebih. Untuk itu, Usman dan perajin bermodal kecil lainnya menjual produknya ke pengepul. ” Ada yang menjual kepada penge­pul di Tegal, Peka­longan, atau Wanarejan Utara.”

Bahan Baku

Kerajinan ini tidak luput dari berbagai persoalan, antara lain suplai bahan baku yang sering tersendat dan kurangnya tenaga kerja. Bahan baku utama sarung yang dibuat dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) itu adalah benang rayon yang bisa didapat dari pabrik benang di daerah Bandung, Jawa Barat.

Bahan baku yang sering tersendat adalah benang ukuran 60/2 sedangkan tenaga kerja pada waktu tertentu sulit didapat terutama ketika order dari manca negara me­ningkat.

Untuk membantu mengatasi persoalan tersebut peme­rintah melalui Disko­perindag membantu be­nang, meskipun tidak setiap tahun dilakukan. Selanjut­nya untuk tenaga kerja yang kurang dilakukan pelatihan bagi generasi muda yang belum memiliki keahlian tenun sama sekali.

Pelatihan juga tidak dilakukan setiap tahun lantaran bergantung pada ketersedian anggaran di APBD.

Dalam pelatihan tersebut selain memberikan materi keahlian menenun juga keahlian berkreasi menciptakan motif baru. Namun demikian motif yang ada saat ini masih dipertahankan perajin lantaraan masih digemari oleh konsumennya.

Salah satu pengusaha sarung goyor, Ahmad Rousul Amir mengatakan, ada dua jenis benang yang digunakan sebagai bahan baku yaitu rayon berukuran 60/2 dan yang lebih kecil 40/2.(ELF/SM)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: