jump to navigation

Portal Gerakan Membangun Desa Januari 3, 2013

Posted by Desa Sima in Inspirasi.
Tags:
trackback

Bangun Desa ala Jurnalis Kampung
Citizen-Journalist-Blog
Di satu sudut balai desa yang kusam, Margino (38) tampak serius mewawancarai seorang petani tentang budidaya sayuran organik. Bak jurnalis profesional, ditulisnya semua jawaban di atas kertas buram. Hanya beberapa jam berselang, artikel itu pun terpampang di portal desa lengkap dengan fotonya.”

Wawancaranya santai, kadang di balai desa, kadang di sawah, atau di warung kopi. Isinya tentang topik yang sedang jadi perbincangan hangat di desa,” kata petugas Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu, Jumat (14/12). Desa ini cukup terpencil di lereng Gunung Slamet.

Margino, yang hanya lulusan sekolah menengah pertama, adalah satu dari 12 jurnalis warga yang rajin mengisi rubrik berita di portal desa mereka: http://www.melung.or.id Portal yang lahir dari semangat swadaya orang kampung membangun desanya: Gerakan Desa Membangun (GDM).

Awalnya, bagi Margino menulis merupakan hal yang sulit. Namun, semangatnya tak luntur. Atas izin kepala desa, dia ikuti berbagai pelatihan jurnalisme warga hingga keluar kota. Margino yang juga aktif di Twitter dan Facebook memanfaatkan media sosial untuk belajar secara otodidak.

Topik tulisan jurnalis kampung ini beragam. Mulai hal remeh seperti lonjakan harga kambing menjelang Idul Adha, bencana alam, hingga yang serius seperti kegelisahan terhadap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Baturraden yang dekat dengan desa.

Pagi hari, Margino dengan seragam coklatnya mulai mencari data ke lapangan. Ia berbincang dengan petani di sawah tentang berbagai soal. Siangnya, selaku perangkat desa, dia kembali ke balai desa melakukan pekerjaan administrasi rutin. Di waktu senggang, dia sempatkan riset kecil-kecilan lewat internet terkait temuan ”investigasinya”. Margino juga tidak segan lembur di balai desa merampungkan tulisannya.

Manfaat sosial media

Jejaring sosial media juga digunakan Margino dan sejumlah warga desa untuk mempromosikan kampung mereka. Sayuran organik, kopi luwak, hingga agenda desa tidak luput dari cericit mereka di dunia maya.

”Waktu ada bencana longsor, kami meminta bantuan ke pemkab, tapi tak ada tanggapan. Setelah informasinya diunggah di Twitter dan banyak di-retweet, selang sehari, dikirim ekskavator untuk membersihkan longsor,” ujar Margino tersenyum.

Warga pun memanfaatkan internet untuk mengembangkan perekonomian. Narwin (31), misalnya, belajar budidaya pertanian organik dari data yang didapat melalui mesin pencari Google. Hasil pertanian organik itu pun dipasarkan lewat jejaring media internet.

Kini, setahun setelah portal desa dimulai, dampaknya mulai dirasakan warga. Kepala Desa Melung Agung Budi Satrio yang merupakan salah seorang inisiator GDM mengaku, warga desanya tak lagi minder. Berbagai komunitas, mulai dari pemerintah desa lain hingga wisatawan, datang berkunjung.

Di Banyumas, sekitar 25 dari 331 desa/kelurahan mengikuti jejak Desa Melung bergabung dalam GDM. Lebih dari sekadar pengelolaan informasi desa, gerakan ini juga mendorong warga peduli terhadap desanya sendiri. Qodirin (40), petani Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, mengatakan, tak hanya perangkat desa, warga pun memiliki akses untuk menulis ke portal desa: http://www.karangnangka.or.id.

Bekas desa tertinggal

Bukan kebetulan pula jika anggota GDM muncul dari desa-desa yang lama menyandang predikat desa tertinggal. Seperti halnya Desa Mandalamekar, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Yana Noviandi (44), Kepala Desa Mandalamekar, mengakui, desanya berjarak sekitar 40 km dari Kota Tasikmalaya. Sebagian jalan masih berupa jalan setapak dari tanah dan berbukit.

”Puluhan tahun kami tak tersentuh pembangunan. Setelah aktif di bidang lingkungan dan menampilkannya melalui media sendiri, perhatian baru bermunculan,” tuturnya saat menghadiri Syukuran Satu Tahun Gerakan Desa Membangun di Desa Melung, pekan lalu.

Budaya jurnalisme warga oleh warga untuk warga ini, menurut Yossy Suparyo, pegiat komunitas peranti lunak tak berbayar dari Infest Yogyakarta dan BlankOn Indonesia, merupakan pintu masuk GDM. Tata kelola informasi secara mandiri mendorong warga hirau terhadap perkembangan sosial.

”Semangat awal GDM untuk menjawab kegelisahan warga desa yang selama ini terpinggirkan dan hanya menjadi obyek. Sudah saatnya inisiatif pembangunan diambil desa. Dimulai dari tata kelola sistem informasi,” ungkap Yossy, salah seorang pionir GDM.

Komunitas open source yang terdiri dari Infest, BlankOn, dan Yayasan Air Putih sangat berjasa membidani gerakan ini. Selain membuatkan portal bagi desa, mereka menyediakan program Mitra Desa 1.0 yang memuat seluruh data masyarakat berbasis nomor induk kependudukan.

Paradigma lama para pejabat pemerintahan pusat tentang pembangunan desa agaknya sudah jadi cerita lama. Saat orang kampung jengah dengan kultur transaksional desa-pusat, mereka mengambil inisiatif membangun. (Gregorius M Finesso)

*)Kompas, 16 Desember 2012

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: